You are here: Home / Nasional / Ironi Eksplorasi Blok Cepu (2-Habis)

Ironi Eksplorasi Blok Cepu (2-Habis)

Rabu 06/10/2010 – Blora, sebuah kabupaten yang cukup luas, memiliki Blok Cepu yang cukup dikenal. Tak hanya di kalangan dalam negeri, juga dikenal hingga luar negeri. Melimpahnya minyak dan gas (migas), merupakan anugerah sumber daya alam (SDA) yang seharusnya bisa memberikan kesejahteraan masyarakat.

Bagaimana realitanya? Cobalah sesekali, menghabiskan malam di Taman Seribu Lampu. Sebuah nama yang populer di salah satu sudut Kecamatan Cepu, di depan RSUD di Jalan Ronggolawe.

Setiap malam, ratusan pedagang mengadu nasib dengan berjualan, mulai dari warung tenda, pakaian murah meriah, hingga VCD bajakan.
Tetapi hiruk pikuk kegiatan ekonomi tersebut, seakan ingin menandai, betapa Cepu seharusnya layak disebut sebuah kota dengan segala potensinya, sehingga pantas diperhitungkan.

Tak hanya itu. Penanda lain yang seakan ingin menahbiskan Cepu sebagai kota metropolitan adalah berdirinya penginapan-penginapan bahkan hotel berbintang.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) dan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Blora, hotel yang berdiri di Blora 2006 sebanyak 23 buah. Tahun 2007 menjadi 26 buah. ”Saat ini, jumlahnya sudah bertambah lagi. Di Kecamatan Cepu, tercatat berdiri 15 hotel. Sedangkan 13 lainnya di wilayah Kecamatan Kota (Blora) dan sekitarnya,” kata Kabag Humas Hj Hurip Indiani, sembari memperlihatkan data BPS.

Hotel paling mewah di Kabupaten Blora adalah Mega Bintang di Cepu. Pada grand opening-nya, mendatangkan penyanyi Krisdayanti (KD). Berbagai hotel yang berdiri itu, tentu saja diharapkan membawa dampak positif, karena membuka peluang kerja bagi ratusan warganya.
Namun, apakah bisa dikatakan bahwa kehidupan masyarakat Cepu yang notabene berada di lingkaran kekayaan migas, mendapatkan pengaruhnya?

”Mereka yang kaya itu para pendatang yang bekerja di Exxon atau perusahaan minyak lain seperti Pertamina. Jadi lebih banyak pendatang. Masyarakat tetap saja hidup sederhana. Bahkan, beban hidupnya semakin bertambah berat, seiring dengan naiknya harga-harga,” kata Ny Djoko Setiapranoto, warga Jalan Diponegoro 53 B yang sehari-hari mengelola rental komputer di rumahnya.
Ny Djoko Setiapranoto tidak menyebut berapa penghasilan yang didapat dari rental komputernya. “Jangan nanya penghasilan. Pokoknya, kalau tidak pintar mengelola, bisa-bisa buat makan saja tidak cukup,” tegasnya.

Wiratno Danu Wiroto, pengamen yang akrab disapa Dapit itu mengemukakan, kemiskinan di Blora bukanlah hal baru. “Katanya kita kaya minyak, tetapi rakyat tetap miskin. Petani juga kalau musim tanam, membeli pupuk dengan harga mahal. Sedangkan kalau musim kemarau, kekeringan,” ujar bapak dua putra yang mengaku sehari rata-rata bisa menghasilkan Rp 20.000 sampai Rp 25.000 itu.

Bupati Drs RM Yudhi Sancoyo MM pada pengujung 2009 mengakui, angka kemiskinan di Blora memang masih cukup tinggi. “Angka kemiskinan secara nasional mencapai 14 persen dan Jawa Tengah 19 persen. Di Blora, angka kemiskinan tercatat 34 persen,” paparnya.
Jumlah penduduknya sendiri tercatat sebanyak 749.274 jiwa. Sedangkan angka pasti untuk saat sekarang, masih harus menunggu data sensus penduduk 2010.

Kendati kemiskinan masih tinggi dan banyak warga yang menjerit seiring kenaikan harga-harga kebutuhan, tetapi pendapatan per kapita masyarakat Blora, tetap naik. BPS mencatat, pedapatan per kapita Rp 2.691.704 (2004), Rp 3.040.459 (2005), Rp 3.407.014 (2006), Rp 3.721.281 (2007), dan Rp 4.293.502 (2008).

Gemerlap lampu di Taman Seribu Lampu, memang selalu ramai. Baik pedagang maupun pengunjung, tampak ”saling bersaing” dengan ”iringan” lagu-lagu dari VCD yang diputar penjual.
Meski tak selalu mendapatkan untung besar, tetapi beberapa pedagang masih merasa beruntung. Alasannya, masih ada ruang untuk mencari rezeki menyambung hidup buat esok hari.

Evi adalah salah satunya. ”Sebenarnya sering sepi. Paling laku kalau ada rombongan datang, seperti para sopir truk,” ujar perempuan asli Kecamatan Padangan, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, yang sudah lima tahun berdagang di taman itu.

Semakin Berat

Dia masih tetap bersyukur berjualan makanan di situ, meski keuntungan yang didapat tidak terlalu besar. ”Persaingan semakin berat. Tetapi saya bersyukur masih bisa mencukupi kebutuhan hidup dari berjualan,” tutur dia tanpa mau menyebutkan pendapatannya secara pasti.
Ny Djoko Setiapranoto mengaku, beban hidup di Cepu kian hari kian berat. Segalanya berubah. Kehidupan semakin mahal. Istri pemilik rental komputer dekat Tugu Ronggolawe yang tak jauh dari Taman Seribu Lampu itu mencontohkan, harga tanah di Cepu, kini melambung tinggi. ”Dulu harga per kaveling berkisar antara Rp 5 juta dan Rp 10 juta, kini bisa mencapai Rp 50 juta,” paparnya.

Hal lain, kata dia, harga makanan dan barang kebutuhan juga naik. Ironisnya, kondisi itu tidak diimbangi dengan lapangan pekerjaan. ”Para pekerja di bidang perminyakan kebanyakan juga orang luar Cepu. Sementara orang Cepu sendiri, sebenarnya masih banyak yang menganggur. Jadinya, pemasukan sedikit, sementara harga barang-barang tambah mahal,” tuturnya.
Kisah hidup Kusyamin, tukang becak lebih 20 tahun, ini juga merasakan beban hidup yang sama. Setiap hari, rata-rata ia hanya bisa menghasilkan pendapatan Rp 25.000.

”Untuk makan, cukup murah, karena saya langganan. Sekali makan rata-rata Rp 5.000. Saya tidak merokok, karena harus menyisihkan uang untuk keluarga di rumah,” ujar dia yang saat ditemui Suara Merdeka sedang mangkal di depan kantor Kecamatan Cepu.
Beratnya beban hidup yang harus ditanggung masyarakat itu, menyebabkan banyak warga yang kemudian bekerja serabutan. Di antaranya dengan menjadi tukang becak atau kuli panggul di pasar.

Tri Juwanto, seorang tokoh masyarakat RT 5 RW II Dukuh Mentul, Kelurahan Karangboyo, Kecamatan Cepu, melihat dampak keberadaan Blok Cepu ternyata cukup luas. Kebutuhan hidup meningkat, sementara di sisi lain, sangat kecil kemungkinan masyarakat diterima bekerja di sektor perminyakan. Maka menambang pasir di Sungai Bengawan Solo pun menjadi pilihan.

“Masyarakat di sepanjang pinggir Bengawan Solo, seperti Desa Balun, Sumberpitu, dan Getas, banyak yang akhirnya menjadi penambang pasir. Paling banter, penghasilan mereka antara Rp 30 ribu sampai Rp 40 ribu,” ujarnya.

Namun, baik Evi, Ny Djoko Setiapranoto, Kusyamin, para penambang pasir, dan masyarakat lain yang tergerus oleh kehadiran dan gegap gempitanya Blok Cepu, harus tetap ”setia” dengan pekerjaannya, agar dapur tetap mengepul.
Akankah eksplorasi Blok Cepu yang sebenarnya sudah berakar sejak 1884, hanya akan menyisakan kisah tentang kemiskinan? Haruskah penggalan kisah pilu di balik melimpahnya migas, akan terus berlanjut? Hanya waktu yang bisa membuktikannya. (Rosidi-20)

//Sarbini taman kutho mbloro Kutho cilik ono ing tengah wono Hasil bumi kayu jati karo lengo Kutho sate karane kutho mbloro//. //Kutho mbloro jare akeh sumber lengo Neng rakyate durung pernah ngrasakno Paling jujur samien surosentiko Seni barong kesenian asli mbloro//.

PENGGALAN syair lagu ”Kutho Mbloro” ciptaan Wiratno Danu Wiroto, pengamen jalanan asli RT 5 RW II Kelurahan Kedungjenar, Blora, ini bukanlah syair tanpa makna. Itu adalah narasi sebuah realitas di Blora hingga saat ini.

Berita Utama, suara merdeka
06 Juli 2010
Ironi Eksplorasi Blok Cepu (2-Habis)
Beban Hidup Masyarakat Tambah Berat
image
SM/Rosidi SERIBU LAMPU: Sejumlah warga mengunjungi Taman Seribu Lampu di salah satu sudut Kecamatan Cepu, tepatnya di depan RSUD, Jalan Ronggolawe.(30)

63 views

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>