Home / Kisah Warga / Dipersulit Skripsi Hingga Diancam DO Karena Dorong Keterbukaan

Dipersulit Skripsi Hingga Diancam DO Karena Dorong Keterbukaan

Berani menanggung risiko, itulah James Ambarita, mahasiswa yang meminta informasi pelaksanaan proyek kampus dan laporan keuangannya. Pada 12 November 2013 lalu, James ke Jakarta untuk menuturkan kasusnya pada teman-teman FoINI dan media.

Berikut penuturannya:

IMG_2540

Berawal Dari Ketertutupan Kampus

Sebenarnya apa yang kita lakukan ini bermula dari kondisi di Unimed yang sangat tertutup bagi mahasiswa untuk mengakses informasi.

Contoh info beasiswa; yang kita ketahui dari buku pedoman akademik bahwa beasiswa ada 8 seharusnya, tapi oleh UNIMED hanya diinformasikan ke mahasiswa hanya 3 yaitu beasiswa PPM, PPA dan Supersemar. Kemudian ada program dari Dikti berupa program penelitian yang seharusnya diberikan kepada mahasiswa dan juga program kewirausahaan. Tapi faktanya, program penelitian itu diambil oleh dosen, dananya juga diambil oleh dosen, dan penelitian dikerjakan oleh mahasiswa sebagai skripsinya. Begitu juga dengan program kewirausahaan.

Kemudian kita lakukan permintaan informasi kepada Unimed. Waktu itu saya sebagai Kepala Komisariat di Unimed, kita surati Humasnya. Setelah kita kasih suratnya kemudian saya diminta menjumpai pihak Dekan fakultas. Di situ ada Dekan, Pembantu Dekan dan Ketua Jurusan, saya diberitahu oleh mereka, bahwa kami tidak berhak meminta informasi di kampus ini. Mereka analogikan bahwa bagaimana kami mau minta informasi keuangan keluarga kami dimana kami sendiri sebagai anak? Tapi saya bilang bahwa kami punya hak dan kami dilindungi oleh UU dan kami mengikuti mekanisme seperti tertulis di UU KIP. Permintaan kami tetap tidak ditanggapi.

Setelah tidak ada tanggapan, maka saya ajukan surat keberatan atas itu dan saya dipanggil lagi oleh Dekan fakultas. Disitu ada ancaman dan intimidasi yang saya terima, dan saya merekam hal itu. Ketika itu Pembantu Dekan 3 bilang bahwa semua pimpinan universitas sudah marah dengan apa yang kami lakukan. Dia bilang bahwa dia pikir kita sudah berdamai ketika saya dipanggil terakhir kali itu. Kemudian dia berkata bahwa bila saya tidak menarik permintaan informasi ini, maka saya tidak akan pernah bisa menyelesaikan proposal atau skripsi saya disini dan tidak akan ada perpanjangan masa studi saya.

Dipersulit Skripsi

Tahun 2013 saya mulai mengerjakan skripsi dan pada tanggal 23 Mei 2013, saya sudah selesai mengerjakan proposal, sudah ditandatangani oleh dosen pembimbing dan sudah dikatakan OK oleh Ketua Prodi. Namun entah kenapa Ketua Prodi malah menarik proposal saya dan menyuruh mengerjakan proposal yang baru dengan judul yang baru. Saya katakan kepada Ketua Prodi bahwa bagaimana saya bisa mengerjakan proposal baru dengan waktu yang hanya tinggal 3 bulan? Tapi beliau bersikeras supaya saya mengerjakan proposal yang baru. Akhirnya saya bisa kerjakan proposal yang baru dalam waktu sebulan dan sudah ditandatangani dosen pembimbing, tapi sampai sekarang Ketua Prodi tidak menandatangani proposal saya.

Kemudian dengan perihal cuti, akhirnya saya tahu bahwa sesuai dengan Surat Edaran Rektor 2 bahwa bagi Stambuk 2006 jika tidak bisa mengadakan meja hijau sampai pada tanggal 23 Agustus 2013 maka otomatis akan dinyatakan DO. Saya takut dengan surat edaran tersebut, dan saya sudah buat surat permohonan kepada Rektor. Saya beranggapan bahwa saya masih punya hak 1 semester ini.

Saya berdiskusi dengan kawan-kawan di USU, ketika mereka mengurus surat cuti resmi, itu semesternya tidak dihitung. Karena kami sama-sama Universitas Negeri, saya kira itu berlaku juga di Unimed. Saya sudah baca di semua peraturan akademik dll tidak ada pernyataan yang secara khusus membicarakan soal cuti, saya bilang saya mau cuti.

Tetap Bayar Kuliah

Kemudian soal bayar kuliah, bila masa studi saya sudah habis, kenapa saya masih bayar kuliah? Kalau saya masih bayar uang kuliah, berarti saya masih punya hak untuk 1 semester lagi disini, tapi kenapa saya tidak mengerjakan skripsi? Artinya jika tidak bisa mengerjakan skripsi karena masa studi saya sebagai mahasiswa sudah habis.

Saya cek di pusat komputer Unimed, saya terdaftar di situ masih semester ganjil padahal yang lain sudah semester genap. hanya saya sendiri yang masih semester ganjil. Pada saat itu saya juga terdaftar sebagai mahasiswa tahun ajaran 2011/2012 sementara setahu saya itu 2012/2013. Karena itu saya meyakini bahwa surat permohonan cuti saya yang saya ajukan kemarin itu berlaku. Tapi sekarang saya sudah urus surat pindah karena saya kuatir saya akan di DO dari Unimed.

Kalau soal keterbukaan informasi publik, kita dimenangkan oleh Putusan KI Pusat yang memerintahkan mereka (Unimed) untuk memberikan seluruh informasi yang kami minta.”

(Diolah dari Notulensi Diskusi “Perjuangan Memperoleh Informasi dan Keadilan Bagi  Mahasiswa UPB, 12 November 2013)

Check Also

Komisioner Komisi Informasi Pusat, Henny S. Widyaningsih saat memberikan materi di worshop keterbukaan informasi publik di Universitas Indonesia

Universitas Indonesia Gelar Workshop Keterbukaan Informasi Publik

Depok, Kebebasaninformasi.org – Universitas Indonesia, melalui Kantor Hubungan Masyarakat dan Keterbukaan Informasi Publik menyelenggarakan workshop …

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

8 − 2 =

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>