Home / Berita / Kronologi Permintaan Informasi Publik ke Unimed II

Kronologi Permintaan Informasi Publik ke Unimed II

Hari rabu tanggal 25 April 2012, Surat Keberatan saya antar bersama seorang teman ke kantor Rektor Unimed. Kami masuk ke kantor itu, langsung memberikan surat, tanpa bertanya surat diterima dan menandatangani tanda terima surat. Setelah tanda terima surat ditandatangani kami permisi ke luar.

Hari Selasa tanggal 1 Mei 2012 Sekretaris GMKI FMIPA-UNIMED mengirimi aku sms isinya menanyakan apakah saya ada diundang ke kantor Dekan FMIPA untuk bertemu besok harinya. Saya langsung menjawab, “Tidak ada, Sek, saya diundang untuk bertemu Dekan, tadi siang hp saya tinggal di kos, ada dua kali panggilan tak terjawab dari PD3 mungkin bermaksud mengundang saya ke kantor Dekan,” jawab saya.

Kemudian Sekretaris membalas sms saya, katanya,”Kita disuruh ke ruang Dekan besok jam 9 pagi, Ketua, mungkin menanyakan tentang surat itu.” Saya langsung balas, “Waduh Sek, saya besok tidak bisa, soalnya saya ada urusan menjemput abang saya ke bandara Polonia.”

Besoknya sekitar pukul 13.00 WIB sekretaris mengirimi saya sms isinya mengajak jumpa dan diskusi tentang surat itu setelah pulang kuliah. Sekitar pukul 6 sore, sekretaris datang ke PGI Wilayah Sumut, kami berdiskusi tentang surat itu. Katanya, “Sebaiknya Ketua kita hentikan saja surat itu, kalaulah permintaan informasi diserahkan kepada kita lantas mau kita apakan informasi itu”? Saya langsung jawab, “Mengapa kita berhenti, kan tidak ada yang salah dengan surat itu, kita hanya meminta apa yang menjadi hak kita, dan itu diatur oleh undang-undang. Nah, lantas kalaulah informasi yang kita minta diberikan oleh Unimed, saya pikir baguslah itu. Ketika kita terima informasi itu, kan menjadi wawasan baru bagi kita.. Kita tahu berapa jumlah anggaran didalam laporan keuangan Unimed.

Kemudian dia berkata, “Kalau cuman sekedar tahu saja, lebih baik kita berhentikanlah ini, soalnya begini, Ketua, tadi siang saya dipanggil Ketua Jurusan, dia bilang bahwa dia cukup hanya satu hari mengenal saya, dan saya dalam waktu 3 tahun belum tentu bisa mengenal dia, pokoknya kita berhenti saja Ketua”.

Kemudian saya berkata, “Kemarin kan sudah saya bilang, jika nanti kamu dipanggil oleh Dekan atau Ketua Jurusan terkait surat itu, katakan saja bahwa kamu itu memang benar mengetahui surat itu, kamu hanya sebagai administrasi surat, yang mengeluarkan surat, jika mereka bertanya banyak tentang surat itu, katatakan saja bahwa ketualah yang bertanggung jawab penuh dengan surat itu. Itulah yang seharusnya kamu katakan biar kamu tidak terlibat dengan surat itu.”

Kemudian saya berkata lagi, “Kita tidak perlu takut, Sek, mereka hanya mengancam saya itu, saya sudah pernah mengalami seperti ini sebelumnya”.

Kemudian dia berkata, “Solusi dari saya kita mundur saja, Ketua, hari Jumat kita jumpa dengan Dekan”.

Aku jawab, “Saya tidak akan mundur, Sek, ok hari Jumat kita jumpa dengan Dekan”.

Hari Jumat tanggal 4 Mei 2012 pukul 07.45 WIB saya ke pergi ke kampus, di tengah jalan saya bertemu dengan sekretaris, saya diboncengnya naik sepeda motor. Kami berangkat bersama ke kampus. Sebelum berjumpa dengan Dekan kami diskusi sebentar, katanya, “Lebih baik kita mundur saja, Ketua”.

Kemudian saya jawab, “Terserahlah kalau kamu mundur, mundurlah apa yang bisa saya buat, saya paham kamu takut ditekan di Fakultas ini. Ya sudah bahasakan saja nanti kepada mereka kalau kamu mundur, tapi saya tidak akan pernah mundur”.

Kemudian kami berdua pergi menuju kantor Dekan.

Pukul 08.15 WIB kami sampai di kantor Dekan. Kami bertemu dengan Dekan di ruangannya sendiri dan kami menyalam beliau. Setelah kami masuk ke dalam ruangan Dekan, kemudian PD3, ketua jurusan Matematika, Ketua Prodi Matematika, Ketua Jurusan Fisika, Ketua Prodi Pendidikan Fisika dan dosen pembimbing akademik Mula Sirait (Sekretaris GMKI FMIPA-UNIMED) masuk ke ruangan Dekan. Kami menyalam beliau-beliau ketika masuk ke dalam ruangan Dekan.

Setelah kami dipersilahkan duduk. PD3 langsung meminta ijin kepada Dekan dan memulai pembicaraan katanya,”Di sini kami berkumpul atas perintah pimpinan Universitas untuk membicarakan surat yang telah kalian buat. Ini ada disposisi dari Rektor” (sambil menunjukkan surat diposisi beserta lampiran surat yang kami buat). Kemudian PD3 lanjut berkata,”Setelah saya membaca surat keberatan yang kalian tujukan ke rektor, naluri politik saya jadi bermain, kau James tidak sepintar yang saya ketahui, saya pastikan ada orang di belakang kalian. Jika kalian meneruskan surat ini ada resiko yang akan kalian hadapi, kalau kalian masih menganggap kami sebagai orang tua kami, kalian tidak teruskan surat ini, tapi kalau kalian tidak menganggap kami sebagai orang tua kalian, kami akan melakukan tindakan tegas.”

Kemudian ketua jurusan berkata, “saya lebih salut ketika kalian melakukan ini dari hati nurani kalian, bukan karena ada orang lain yang memperalat kalian. Bagi saya sungguh tololnya kalian mau diperalat oleh orang lain. Kalian diperalat. Kalianlah nanti yang akan menjadi korban. Kalau kalian teruskan surat ini, ya silahkan, kita di sini ada peraturan, ada perundang-undangan. Kalau kalian menanyakan tentang anggaran, saya kira itu tidak beretika.”

Kemudian PD3 berkata, “Kalian harus beranggapan bahwa kalian bukan dihadiri itu harus kalian garis bawahi. Ini antara orang tua dengan anak. Kita masih melakukan tindakan persuasif. Kalau nanti kalian masih berkeras ya, udah, mungkin kami akan melakukan tindakan apa yang harus akan kami lakukan. Kau James, saya sudah tahu siapa orang di belakang kalian ini.

Kemudian Dekan berkata, “Saya merinding ketika mendengar janji mahasiswa, ini sudah memalukan almamater.”

Kemudian PD3 berkata, “Saya analisis dengan teman-teman saya, saya sudah tahu apa targetanmu, tapi terserahlah. Kalau saya sudah terusik, saya lacak keberadaanmu. Saya pastikan tidak ada perpanjangan waktu untukmu untuk menyelesaikan studi, dan saya pastikan kau tidak akan bisa menyelesaikan proposal dan skripsimu, hari ini penentuannya, ini bukan ancaman, semua orang sudah marah.

Kemudian saya berkata, “Boleh saya bicara, Pak”?

Kemudian mereka menjawab, “Silahkan”.

Kemudian saya lanjutkan pembicaraan, “Dalam pembuatan surat ini kami murni dari diri kami sendiri, tidak ada orang lain di belakang kami. Kalau memang Bapak PD3 bisa mengungkapkan siapa orang dibalik kami, kalau itu benar dan bisa dipertanggungjawabkan oleh bapak PD3, maka kami akan siap menarik surat kami, katakan saja sekarang, Pak, siapa yang Bapak maksud ada orang di belakang kami”.

Kemudian Dekan berkata, “Sudahlah, kemarin saya pikir perjumpaan kita kemarin sudah selesai, tapi ternyata kalian teruskan surat ini. Saya akan kumpulkan guru-guru besar yang ada di fakultas ini, saya aku buat rapat senat fakultas untuk membicarakan kau James Ambarita. Kami akan memberikan tindakan tegas terhadapmu”.

Kemudian PD3 menjawab katanya,”Saya berpikir kau ini terlalu percaya diri, saya tahu siapa orang di belakang kalian, termasuk dimana kalian berjumpa, tapi tidak mungkin saya katakan di sini. Kalau saya katakan di sini itu dapat membongkar aib beliau. Nanti kita ngomong berdua, saya akan katakan sama kau siapa orang di belakang kalian. Tidak usah berapologi lah”.

Kemudian PD3 berkata, “Sudah saya bilang, kau tidak secerdas yang saya kira,”.

Kemudian Ketua Jurusan Matematika berkata, “Ah, begini, saya melihat begini, yang dituntutnya itu tak akan tercapai. Target yang mereka capai supaya sampai informasi publik itu tidak akan tercapai karena tidak punya jalur”.

Kemudian Dekan berkata, “Definisi publik itu pun mereka tidak jelas, apakah GMKI itu LSM. Kalau itu tidak terdaftar di KESBANGLINMAS, dapat dilaporkan, karena memberikan keresehan, ada definisi publik tidak semua informasi publik yang dapat diberikan”.

Kemudian Ketua Jurusan matematika berkata, “Jadi saya pikir mereka menjadi korban, dan kita-kita yang di sini jadi repot mengurusi ini”.

Dan Ibu Ketua Prodi Pendidikan Fisika berkata,”Saya kira mereka kuliah ke Unimed ini untuk belajar, kalian pikirkan orang tua kalian, saya hanya berpesan bahwa siapa yang berbuat maka dia akan menuai, meskipun kalian membawakan nama GMKI dan meskipun yang kalian lakukan ini dari hati nurani kalian, toh juga kalian yang akan menjadi korban di sini, kalau saya ibu kalian saya akan menangis ketika anak saya melakukan seperti ini.”

Setelah itu bapak Ketua Jurusan Fisika mengajak kami berdua untuk melanjutkan pembicaraan di ruangannya.

Pukul 10.15 WIB, kami pun beranjak keluar dan menyalam mereka. Kami pergi meninggalkan ruangan Dekan menuju ruangan Ketua Jurusan Fisika. Ruangan beliau berada di atas ruangan Dekan, kami masuk dan memulai diskusi. Ketua Jurusan lebih banyak berbicara tentang cerita-cerita. Kami hanya mendengar beliau bercerita.

Salah satu cerita beliau seperti ini, “Ada seorang ayah yang mempunyai dua anak laki-laki dan satu anak perempuan. Ketiga anaknya meminta pisau cukur. Anak laki-laki pertama dan kedua dikasih pisau cukur, tetapi anak perempuan tidak dikasih pisau cukur, karena anak laki-laki pertama punya kumis yang sudah lebat dan harus dicukur dan anak laki-laki kedua punya jenggot yang sudah panjang, anak perempuan tidak punya kumis dan jenggot untuk dicukur sehingga tidak dikasih pisau cukur.”

Kemudian lanjut beliau, “Jadi cerita tadi sama halnya seperti yang kalian minta.”

Sesudah lama kami mendegar cerita beliau, kami disuruh menjawab pertanyaannya, katanya, “Apakah kalian akan melanjutkan surat ini, kau dulu menjawab, Mula”? Kemudian si Mula menjawab, “saya kira, Pak, saya mundur dari surat ini”. Kemudian bapak itu menanya saya, katanya, “bagaimana dengan kau, James, apakah masih dilanjutkan?”

Kemudian saya jawab,”Berikan saya waktu 3 hari untuk menjawabnya Pak, karena kalau saya jawab sekarang, saya masih berada dalam tekanan Pak. Jadi berikan saya 3 hari untuk menjawab ini, Pak. Hari Senin saya akan berikan jawabannya”.

Kemudian Ketua Jurusan Fisika berkata, ”ok, saya akan sampaikan kepada Dekan.” Setelah itu kami izin keluar. Pukul 11.45 WIB kami ke luar dari ruangan Ketua Jurusan Fisika. (James Ambarita/AA)

Check Also

MA Tolak Kasasi KontraS Soal Putusan TPF Munir

Jakarta – Beberapa waktu yang lalu, KontraS mengajukan gugatan Kasasi soal putusan Komisi Keterbukaan Informasi …

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

twenty − three =

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>