Sejarah itu milik penguasa! Apakah ini betul?

Jumat 01/10/2010 – Sampai saat ini penulis meyakini itu betul! Coba lihat berapa pejabat aktif masuk bui? Hitung pula berapa bekas pejabat masuk bui? Mungkin nanti kita akan menemukan perbandingan 1:100 atau 1:1000. Ketika ia masih berkuasa, maka ia tidak akan diutak utik (atau karena ia masih mampu menggunakan kuasanya menggunakan uang untuk menyediakan tumpengan?). Sementara beberapa waktu setelah ia tidak menjabat, mulailah ia di kejar dan di kuyo-kuyo. Lihat bagaimana Yusril, Bahtiar Chamsah, Rochmin Dahuri, Hari Sabarno…

Tetapi masih untung lho (inilah cirikhas orang jawa), mantan-mantan presiden kita tidak duduk di kursi pesakitan. Bung Karno tidak pernah di adili, meskipun malah lebih parah di prodeokan di wisma Yaso. Pak Harto si jendral bintang lima dan bapak pembangunan, yang dihentikan penyelidikannya atas yayasan-yayasanya karena ia divonis menederita lupa ingatan permanen…Prof Habibie, ha mana mungkina berbuat sesuatu untuk nakal, ia berkuasa hanya 1 tahun… Gusdur dan Megawati yang parohan dalam satu masa jabatan… dan presiden terakhir…ini pertanyaan yang harus kita tunggu!

Sang pemimpinlah yang menciptakan sejarah pada akhirnya yang akan dihapus oleh penguasa berikutnya! Coba Tanya kepada masyarakat yang saat ini berusia 30-60 tahun, mereka pasti telah melihat Film G 30 S/PKI yang klimaksnya adalah pembunuhan terhadap 7 Jendral yang kemudian kita sebut pahlawan revolusi.

Waktu pemerintahan Soekarno istilah yang dipakai adalah Gestok (gerakan satu oktober), karena sang pemimpin melihat gerakan itu terjadi pada waktu subuh atau setelah tengah malam 30 September 1965. Namun setelah Soekarno dikerangkeng oleh penguasa berikutnya yang secara eufemistis diletakkan di Istana Yaso tanpa pengadilan yang fair…yah kalau diadili, pasti tidak akan fair toh seluruh perangkat Negara dari seluruh anggota MPR dan pejabat Negara lain adalah pilihan Soeharto?

Nah inilah mungkin ini sejarah yang benar-benar! Alloh tidak menghendaki Soekarno diadili, sebab.. jika ia menang apa yang terjadi jika ia malah dipenjara seumur hidup…ini akan menjadi sejarah kelam. Maka melalui malaikat-malaikatnya Alloh membisikkan ke Soeharto untuk tidak mengadili Soekarno….karena dengan tidak diadilinya Soekarno akan menjadi sejarah… bahwa ia pemimpin besar yang dipenjarakan oleh pemimpin berikut yang ia besarkan! Dan mungkin Soeharto takut juga jika ia dipenjarakan dan itu hampir saja seandainya tidak ada surat keterangan lupa ingatan permanen!

Sejak pemerintahan Soeharto, maka digantilah menjadi G 30 S?PKI, meskipun kejadiannya pada subuh 1 Oktober, tetapi ia sang presiden yang berhak membuat sejarah. Bahkan ia mencekoki masyarakat dengan film G 30 S/PKI yang secara tersirat menyudutkan Soekarno adalah PKI. Di sinilah, masyarakat kita yang terbodohkan oleh film yang dibuat oleh suatu rezim untuk mengazasin pemimpin sebelumnya sehingga image pemimpin baru semakin besar….kebodohan bangsa kitalah yang menyebabkan jarang ada yang berani bicara…atau justru begitu kuatnya pemerintahan, sehingga di setiap desa saja warga tidak akan bebas berbicara, karena ketika salah bicara mungkin membahayakan keselamatan Negara… ia menghilang … mungkin tamasya ke surga.

Bahkan dalam film dikesankan pemberontakan itu direstui oleh Soekarno. Andai benar, maka Soekarna adalah manusia sekuat Gusdur yang setelah terkena Strok kemampuannya tidak menurun malah semakin cemerlang. Beberapa hari menjelang G 30S or G 1 Ok, Soekarno terserang strok bahkan berbagai penyakit yang sayangnya scenario kehidupan mengharuskan Soekarno suka dirawat oleh perawat, eh shinse, ah dokter dari China, sehingga munculah spekulan Soekarno sengaja dilemahkan syaraf-syarafnya dan dikendalikan dengan hipnotis sehingga merestui pemberontakan! Ah dasar gendeng! Mungkinkah?

Lucunya lagi… bagaimana mungkin seorang presiden merestui pemberontakan bernuansa kudeta terhadap pemerintahan yang ia pimpin sendiri? Kenapa tidak justru ia memperkuat kepemimpinannya dengan merangkul orang-orang kuat agar kekuasanaanya semakin lama? Seperti Fidel Castro, Kim Jung Ill, Mohamar Khathafi, Raja Fahd, trah Gandhi, atau bahkan Soeharto sendiri selama 32 tahun memimpin dengan 7 wakil presiden dan arisan menteri berjumlah ratusan dengan waktu arisan sangat teratur 5 tahunan dan yang keluar sebagai pemenang tentu ditentukan oleh sang pemimpin!

Lucunya lagi….pemberontak-pemberontak adalah rekan atau paling tidak anak buah dari seorang jendral yang akhirnya menjadi pahlawan seusai pemberontakan yang berhasil menumpas hanya dalam hitungan jam. Sebuah kudeta paling singkat tentunya…Bagaimana dengan Soeharto? Bolehkah kita mengkaitkan keakrabanya dengan Latif dan Untung, hingga Soeharto datang khusus menghadiri Kenduri pernihan Untung di Kebumen. Bila keadaan genting cukupkah dimaknai penghormatan, karena Untung dan Beny Murdani baru saja mendapat penghargaan Bintang Sakti, bintang penghargaan tertinggi karena keberaniannya dalam operasi pembebasan Irian Jaya. Baca lengkap di http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2010/09/30/125217/Letkol-Untung-Bukan-Pemimpin-G30S

Sampai saat ini sejarah linear dengan film G 30 S PKI yang cekokkan melalui menjadikan film wajib bagi pegawai negeri sipil dan non sipil serta siswa-siswa. Bahkan di putar setiap tahun di televisi setiap peringatan G 30 S PKI. Ini adalah indoktrinasi dengan Untung sebagai pimpinan pemberontakan. Aswi Warman Adam (Suara Merdeka, 30 September 2010), sebenarnya Syam Kamauzaman adalah pemimpin gerakan bukan Untuk. Hanya karena dengan dalih penyelamatan presiden, sehingga Untung berada paling atas dan lebih tinggi dari Supardjo yang pangkatnya lebih tinggi. Dan itu adalah alibi agar masih logis seorang letnan kolonel memimpin jendral. Karena secara normal tidak mungkin seorang jendral menjadi anak buah colonel, sehingga teori Aswi bahwa Syam sang pemimpin adalah wajar, dan inilah salah satu sebab pemberontakan berbilang jam semata.

Dan film G 30 S PKI mampu membuat sejarah bagi waraga Indonesia yang sampai saat ini tidak dapat mengetahui bagaimana jalan sejarah sebenarnya. Dan penguasa kedua dengan sejarahnya belum mampu digantikan oleh penguasa berikut yang bermasa kerja pendek. Habibie hanya satu tahun, Gus Dur hanya 2 tahun, Megawati 3 tahun. Saat inilah kiranya SBY yang telah berkuasa 6 tahun menyisakan 4 tahun lagi, tentu mampu menyingkap sejarah. Toh ia menantu Sarwo Edy pahlawan waktu itu dan harus menangis karena hanya menjadi duta besar, hingga tak mampu berperan banyak di tanah air. Apakah memang agar ia tidak berbicara?

SBY perlu membuat film sejarah yang meluruskan sejarah G 30 S PKI, padahal harusnya G 1 O… mungkin PKI mungkin perang perebutan calon penguasa baru mengingat pemimpin kala itu memang sudah sakit-sakitan, atau memang benar kata Ben Anderson, bahwa itu kasus internal Angkatan Darat? Bagaimana mengungkap laporan rinci Latif kepada Soeharto tentang Untung. Bagaimana peran Rochaedy yang tidak pernah muncul dalam film G 30 S PKI…. Perlulah ada film G 1 OK atau film apalah atau buku sejarah yang tidak menyesatkan anak bangsa…. Dan sejarah adalah penguasa, sehingga tentu bisa meluruskan sejarah.

Jika presiden-presiden pendek waktu tak memiliki interest, apa mungkin presiden SBY juga tidak memiliki interest untuk itu?

Kasihan anak-anak kita ini sebenarnya tidak mengerti benar bagaimana sejarah itu berlangsung…. Dan penulis hanya berharap ada sejarah baru yang otentik bukan sekedar analisis….tanpa penelitian mendalam akan bukti-bukti sejarah….

Kini apa yang kita peringati dari G 30 S …. Hari ini yang ternyata para anak cucunya juga menggugat, karena mereka merasa ayah mereka bukan pembuat sejarah hitam negeri ini. Ataukah kita peringati 1 Oktober…mungkinkah itu hari kesaktian Pancasila, sementara pemberontakan atau kudeta tak bersentuhan dengan Pancasila. Mereka mungkin sekedar membuat sandiwara yang mampu membuang batu, sementara ia…kemudian menikmati hasilnya dan orang lain yang harus menerima getahnya! Mungkinkah…ini hanya pemikiran artifisial dari orang yang tidak mengerti sejarah…karena baru berumus 4 tahun kala itu….

Para sejarawan…buatlah sejarah yang benar…terus terang saya masih ragu!

Penulis: Y.Padmono Dr.

Sumber: http://sejarah.kompasiana.com/2010/09/30/sejarah-itu-milik-penguasa-g-30-s-atau-g-1-ok/-12

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

nine + four =