KI Pusat Sidangkan Sengketa Informasi Terkait Soal dan Kunci Ujian Nasional

Jakarta, KebebasanInformasi – Majelis Komisioner (MK) Komisi Informasi Pusat, Senin (12/1/2014), menggelar sidang terkait sengketa informasi Soal dan Kunci Jawaban Ujian Nasional (UN). Sengketa informasi dengan register 331/IX/KIP-PS/2013 antara Pemohon perorangan Robby Tutuarima terhadap Termohon Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tersebut dipimpin Ketua MK Henny S Widyaningsih beranggotakan Abdulhamid Dipopramono dan Yhannu Setyawan.

Persidangan keempat yang telah berlangsung sejak Tahun 2014 itu mendapat perhatian pengunjung karena Pemohon meminta informasi Soal dan Kunci Jawaban Ujian Nasional (UN) Tahun 2012, 2013, dan 2014 untuk SMP dan SMA. Namun Termohon tidak bersedia memberikan sehingga MK meminta Termohon melakukan uji konsekuensi yang dapat memperkuat argumen Termohon untuk menutup informasi yang diminta Pemohon.

Pada sidang tersebut, termohon memberikan hasil Uji Konsekuensi sebagai landasan mengapa informasi yang diminta Pemohon harus ditutup. Hasil Uji Konsekuensi setebal 14 halaman tersebut merupakan penyempurnaan dari sebelumnya yang dinilai MK sebagai uji konsekuensi yang tidak kuat. Pada sidang ini Termohon menghadirkan seorang Ahli guna memperkuat argumen Termohon untuk menutup informasi tersebut.

Setelah MK meminta Berita Acara Uji Konsekuensi dari Termohon maka dilanjutkan dengan mendengarkan keterangan Ahli. Termohon menghadirkan seorang ahli psikometri dari Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung, yaitu Urip Purwono, Ph D, yang juga merupakan Kepala Laboratorium Psikometri Unpad. Psikometri merupakan cabang statistik dalam pengembangan tes. Bidang keahliannya antara lain menetapkan tingkat ability setiap soal ujian yang akan dipergunakan.

Dalam keterangannya Urip mengatakan, sebaiknya informasi soal dan kunci jawaban UN tidak dibuka ke publik.

“Meski UN sudah berlangsung namun soal dan kunci jawaban masih perlu dirahasiakan untuk menjaga tingkat kesulitan dari soal ujian yang akan datang yang bisa mengukur ability yang diuji,” kata Urip.

Dia mengatakan bahwa parameter soal yang sudah diketahui publik tidak akan menggambarkan karakteristik dari item-nya. Soal jangka waktu bisa dibuka ke publik, Urip mengatakan selain dipengaruhi kurikulum juga seberapa banyak sebuah soal sudah dipakai, bukan dari ukuran waktunya.

Urip juga mengatakan, biasanya dari soal ujian tahun sebelumnya paling tidak ada sekitar 20 hingga 30 persen soal yang masih dapat dipergunakan pada ujian berikutnya. Hal itu, menurutnya untuk menjaga kontinuitas dari soal ujian sebelumnya berdasarkan parameter yang telah dibuat. “Jika soal ujian sebelumnya dibuka ke publik maka tingkat kesulitan soal otomatis menurun sehingga tidak dapat dipergunakan lagi,” tegasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

six + 11 =